Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi, S.Sos
Mereka berkata, "Jangan melawan orang yang punya kuasa." Mereka mengingatkan, "Jangan berhadapan dengan orang yang punya koneksi." Bahkan mereka menakut-nakuti, "Jangan ganggu orang yang punya uang, karena mereka bisa membeli apa saja."
Kalimat-kalimat semacam itu telah menjadi senjata untuk membungkam keberanian rakyat kecil. Seolah-olah kekuasaan adalah Tuhan, koneksi adalah hukum, dan uang adalah penentu benar atau salah.
Padahal sejarah manusia justru mengajarkan hal yang sebaliknya.
Sejak awal peradaban, para nabi tidak pernah diutus untuk tunduk kepada kezaliman. Mereka datang justru untuk menegakkan kebenaran di hadapan para penguasa yang sombong, para pemilik modal yang rakus, dan para elit yang menjadikan rakyat sebagai alat memperkaya diri.
Nabi Ibrahim berdiri menghadapi Raja Namrud yang menganggap dirinya paling berkuasa. Kesombongan itu berakhir dengan kehinaan. Tidak ada kerajaan yang mampu menyelamatkan manusia dari ketetapan Allah.
Nabi Musa menghadapi Fir'aun, simbol kekuasaan absolut yang memperbudak rakyat dan mengaku sebagai tuhan. Fir'aun memiliki tentara, istana, kekayaan, dan kekuasaan tanpa batas. Namun semua itu tidak mampu menyelamatkannya. Al-Qur'an mengisahkan bagaimana Fir'aun dan bala tentaranya ditenggelamkan di laut. Kekuasaan yang dibangun di atas kezaliman akhirnya tenggelam bersama pemiliknya.
Al-Qur'an juga menceritakan Qarun, manusia yang hartanya begitu melimpah hingga kunci-kunci gudangnya saja harus dipikul oleh banyak orang. Kesombongan membuatnya lupa bahwa semua itu hanyalah titipan. Allah membenamkan Qarun beserta rumah dan seluruh kekayaannya ke dalam bumi. Harta yang dibanggakan lenyap dalam sekejap.
Kaum 'Ad yang dipimpin orang-orang kuat merasa tidak ada yang mampu mengalahkan mereka. Kaum Tsamud membanggakan teknologi dan kemegahan bangunan mereka. Namun ketika kesombongan berubah menjadi penindasan, Allah menghancurkan mereka. Yang tersisa hanyalah pelajaran bagi generasi setelahnya.
Semua kisah itu bukan sekadar cerita masa lalu. Ia adalah peringatan bahwa kezaliman memiliki batas waktu, sedangkan keadilan Allah tidak pernah kedaluwarsa.
Karena itu, jangan pernah mengajarkan rakyat agar takut kepada penguasa yang zalim. Yang harus ditakuti adalah murka Allah ketika kekuasaan digunakan untuk merampas hak orang kecil, ketika hukum diperjualbelikan, ketika tanah rakyat dirampas, ketika buruh diperas, ketika suara kaum lemah dibungkam demi keuntungan segelintir orang.
Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam. Salah satu misi besar beliau adalah mengangkat harkat manusia yang selama itu diperlakukan sebagai budak dan objek eksploitasi. Islam datang menghapus praktik perbudakan secara bertahap, memuliakan manusia tanpa memandang status sosial maupun warna kulit.
Bilal bin Rabah adalah simbol kemenangan kemanusiaan atas kesombongan kekuasaan. Seorang budak yang disiksa karena mempertahankan tauhid itu akhirnya dimerdekakan oleh dengan pengorbanan yang besar. Di sisi Rasulullah ﷺ, Bilal bukan lagi budak, melainkan sahabat yang dimuliakan hingga dipercaya menjadi muazin pertama Islam. Derajatnya diangkat bukan karena kekayaan atau keturunan, tetapi karena iman dan keteguhan.
Inilah pesan yang harus terus dihidupkan pada zaman ketika "predator korporasi", oligarki ekonomi, atau siapa pun yang menyalahgunakan kekuasaan berpotensi menempatkan manusia hanya sebagai alat mencari keuntungan. Keuntungan ekonomi tidak boleh mengorbankan martabat manusia, hak pekerja, ataupun keadilan sosial.
Sejarah telah berkali-kali membuktikan bahwa setiap kekuasaan yang dibangun di atas keserakahan, ketamakan, dan kezaliman pada akhirnya akan runtuh. Tidak selalu hari ini, tidak selalu esok, tetapi setiap kezaliman memiliki batas yang telah ditentukan Allah.
Tulisan ini bukan ajakan membenci orang kaya, membenci pengusaha, atau memusuhi penguasa. Sebaliknya, ini adalah seruan agar mereka yang diberi amanah berupa jabatan, kekayaan, pengaruh, dan jaringan luas segera melakukan introspeksi. Sebab jabatan bukan milik abadi. Kekayaan bukan jaminan keselamatan. Koneksi tidak dapat membeli keputusan Allah.
Lonceng sejarah telah berbunyi berkali-kali. Namun sering kali manusia memilih tidak mendengarnya.
Maka sebelum sejarah kembali menulis babak baru tentang runtuhnya kesombongan, bertaubatlah. Gunakan kekuasaan untuk melayani, gunakan harta untuk menolong, gunakan koneksi untuk menghadirkan keadilan, bukan untuk melindungi kezaliman.
Sebab ketika keadilan ditinggalkan, kehancuran hanyalah soal waktu. Dan ketika Allah telah menetapkan suatu kaum untuk menerima akibat dari kezaliman mereka, tidak ada kekuasaan, tidak ada harta, dan tidak ada koneksi yang mampu menghalangi keputusan-Nya.
Penulis adalah seorang Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban Indonesia yang konsisten dalam kegiatan Sosial-Politik Nasional.(Team)













Social Plugin