Kearifan dan Kebijaksanaan dalam Perspektif Islam: Refleksi atas Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir sebagai Paradigma Epistemologi Kehidupan



Oleh: Muhammad Mas'ud Silalahi

Abstrak

Kehidupan manusia pada hakikatnya merupakan perjalanan yang bersifat sementara. Dalam perspektif Islam, keberhasilan hidup tidak hanya diukur melalui capaian material, tetapi juga melalui warisan nilai, kebijaksanaan, dan kemanfaatan yang ditinggalkan bagi generasi berikutnya. Tulisan ini mengkaji konsep kearifan (ḥikmah) dan kebijaksanaan melalui pendekatan normatif dengan menelaah kisah Nabi Musa 'alaihissalam dan Nabi Khidir 'alaihissalam sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82. Kajian ini menunjukkan bahwa kebenaran dan kebijaksanaan tidak dapat dipahami secara parsial, melainkan memerlukan pendekatan multidimensional yang mempertimbangkan dimensi syariat, hakikat, rasionalitas, dan hikmah Ilahi.

Pendahuluan

Manusia adalah musafir di dunia. Kesementaraan kehidupan mengajarkan bahwa tidak ada warisan yang lebih bernilai daripada jejak kehidupan yang dipenuhi ilmu, akhlak, kearifan, dan kebijaksanaan. Al-Qur'an menegaskan bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, sedangkan kehidupan akhirat merupakan tujuan yang hakiki (QS. Al-Ankabut [29]: 64).

Dalam tradisi intelektual Islam, kebijaksanaan (ḥikmah) dipandang sebagai anugerah yang sangat agung. Allah SWT berfirman:

«"Allah menganugerahkan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa dianugerahi hikmah, sungguh ia telah dianugerahi kebaikan yang banyak." (QS. Al-Baqarah [2]: 269).»

Ayat tersebut menunjukkan bahwa hikmah bukan sekadar kecerdasan intelektual, melainkan kemampuan memahami realitas secara utuh sesuai dengan kehendak Allah.

Kisah Musa dan Khidir: Dua Paradigma Kebijaksanaan

Salah satu narasi paling mendalam mengenai hakikat ilmu dan kebijaksanaan terdapat dalam Surah Al-Kahfi ayat 60–82. Dalam kisah tersebut, Nabi Musa 'alaihissalam—seorang rasul ulul azmi yang menerima wahyu—diperintahkan Allah untuk belajar kepada seorang hamba saleh yang diberi rahmat dan ilmu khusus dari sisi-Nya, yaitu Nabi Khidir.

Secara lahiriah, tindakan Khidir tampak bertentangan dengan logika dan prinsip keadilan: melubangi perahu, membunuh seorang anak, serta memperbaiki tembok tanpa meminta imbalan. Namun pada akhirnya dijelaskan bahwa seluruh tindakan tersebut merupakan bagian dari hikmah Ilahi yang tidak dapat dipahami hanya melalui penilaian kasat mata.

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, kisah ini merupakan pelajaran bahwa keluasan ilmu manusia tetap memiliki batas, sedangkan ilmu Allah meliputi segala sesuatu. Sementara Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulum al-Din menjelaskan bahwa hikmah adalah kemampuan menempatkan sesuatu secara proporsional sesuai dengan tujuan penciptaannya.

Kearifan Menuntut Perspektif yang Komprehensif

Kisah Musa dan Khidir mengajarkan bahwa kebijaksanaan tidak lahir dari cara pandang tunggal. Realitas kehidupan sering kali memiliki dimensi yang tidak tampak pada pandangan pertama. Oleh karena itu, seseorang tidak cukup hanya mengandalkan logika empiris, tetapi juga memerlukan kedalaman spiritual, kesabaran, dan kerendahan hati.

Dalam konteks ilmu pengetahuan modern, cara berpikir demikian dikenal sebagai pendekatan multidisipliner atau sistemik, yakni memahami suatu persoalan melalui berbagai perspektif yang saling melengkapi. Pendekatan ini selaras dengan prinsip Islam yang mendorong manusia untuk menggunakan akal, hati, dan wahyu secara terpadu.

Relevansi bagi Kehidupan Kontemporer

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, masyarakat membutuhkan figur-figur yang mampu memadukan ketegasan Nabi Musa dalam menegakkan kebenaran dengan keluasan hikmah Nabi Khidir dalam memahami realitas. Kepemimpinan yang hanya bertumpu pada aturan tanpa kebijaksanaan berpotensi melahirkan kekakuan, sementara kebijaksanaan tanpa pijakan nilai dapat mengarah pada relativisme moral.

Oleh sebab itu, pendidikan Islam seyogianya tidak hanya melahirkan individu yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual, emosional, dan moral.

Penutup

Sebagai musafir yang hanya singgah sementara di dunia, manusia tidak membawa apa pun kecuali amal dan nilai-nilai yang diwariskan kepada sesama. Jejak kehidupan yang paling berharga bukanlah kemewahan, melainkan kearifan, kebijaksanaan, dan kemanfaatan yang terus hidup setelah seseorang tiada.

Kisah Nabi Musa dan Nabi Khidir mengingatkan bahwa kebijaksanaan sejati tidak lahir dari sudut pandang yang sempit, melainkan dari kemampuan melihat kehidupan secara utuh dalam cahaya ilmu, iman, dan petunjuk Allah SWT.

Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita ilmu yang bermanfaat, hikmah dalam setiap keputusan, serta menjadikan kehidupan dan kematian kita sebagai jalan menuju rahmat dan ridha-Nya. Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Referensi

1. Al-Qur'an al-Karim: QS. Al-Baqarah [2]: 269; QS. Al-Kahfi [18]: 60–82; QS. Al-Ankabut [29]: 64.
2. Ibnu Katsir. Tafsir al-Qur'an al-'Azhim.
3. Al-Ghazali. Ihya' Ulum al-Din.
4. Al-Tabari. Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an.
5. M. Quraish Shihab. Tafsir Al-Mishbah. Lentera Hati.

Penulis adalah seorang Pengasuh Rumah Qur'an dan Peradaban Indonesia

Banda Aceh, 23 Juli 2026